PADANG, KEMENDIKBUD (cvtogel) — Kementerian Kebudayaan (sebelumnya Kemendikbudristek) mengambil langkah unik dan krusial dalam respons pascabencana banjir bandang dan longsor di Sumatera Barat (Sumbar). Selain bantuan logistik umum, Kementerian secara khusus menyalurkan bantuan pemulihan kebudayaan dan penyelamatan aset warisan budaya di daerah terdampak.
Bantuan ini menekankan pentingnya menjaga identitas dan memulihkan semangat masyarakat melalui pelestarian warisan budaya yang terancam atau rusak akibat bencana.
I. Fokus Bantuan Kebudayaan dan Logistik Khusus
Bantuan yang disalurkan oleh Direktorat Jenderal Kebudayaan difokuskan pada tiga area utama, terutama di daerah-daerah yang kaya akan peninggalan budaya seperti Kabupaten Agam dan Tanah Datar.
Penyelamatan Manuskrip dan Dokumen: Tim ahli konservasi dikerahkan untuk menyelamatkan dan merestorasi manuskrip, dokumen sejarah, dan naskah kuno yang rusak karena terendam air dan lumpur.
Restorasi Rumah Adat: Bantuan teknis dan material disiapkan untuk memulai pemetaan kerusakan pada rumah-rumah adat, termasuk Rumah Gadang, yang mengalami kerusakan struktural akibat bencana.
Bantuan Logistik untuk Seniman: Disalurkan bantuan khusus berupa peralatan seni, alat musik tradisional, dan bahan baku kerajinan yang hilang atau rusak, agar para seniman dan pelaku budaya dapat segera kembali beraktivitas.
“Bencana tidak hanya merusak fisik, tetapi juga psikis dan warisan budaya kita. Melalui bantuan ini, kami ingin memastikan bahwa memori kolektif masyarakat Sumbar, yang terwakili dalam aset budaya, dapat dipulihkan. Pemulihan budaya adalah bagian dari pemulihan jiwa,” kata Direktur Jenderal Kebudayaan, Hilmar Farid, saat penyerahan bantuan di Padang.
II. Koordinasi Lintas Sektor dan Pendampingan
Kementerian Kebudayaan bekerja sama dengan Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) setempat, museum daerah, dan komunitas adat.
-
Pendataan Kerusakan: Tim telah memulai pendataan komprehensif atas semua situs cagar budaya dan koleksi museum yang terdampak untuk menginventarisir kebutuhan restorasi jangka panjang.
-
Pendampingan Komunitas: Bantuan ini juga mencakup pendampingan psikososial berbasis budaya, seperti kegiatan seni dan folklore yang bertujuan membantu korban menghadapi trauma.
Langkah ini menunjukkan kesadaran pemerintah bahwa pemulihan pascabencana harus mencakup dimensi fisik (infrastruktur) dan dimensi non-fisik (sosial dan budaya).







