Padang, Sumatera Barat (initogel) — Hujan yang turun sejak sore hari mengubah kawasan Tunggul Hitam, Kota Padang, menjadi genangan luas. Air merambat pelan namun pasti, masuk ke halaman rumah, lalu ke ruang tamu dan kamar tidur. Ketika ketinggian air terus naik, pilihan warga tinggal satu: menyelamatkan diri.
Malam itu, ratusan warga Tunggul Hitam terpaksa dievakuasi ke tempat yang lebih aman akibat banjir yang merendam permukiman mereka. Suasana panik bercampur pasrah menyelimuti kawasan padat penduduk tersebut.
Air Datang Cepat, Warga Tak Punya Banyak Waktu
Bagi sebagian warga, banjir datang lebih cepat dari perkiraan. Saluran air yang tak mampu menampung debit hujan membuat air meluap ke jalan dan rumah-rumah. Dalam hitungan jam, ketinggian air mencapai lutut orang dewasa di beberapa titik.
“Kami sempat mengira air akan berhenti di halaman,” ujar Ibu Lina, warga setempat. “Ternyata terus naik. Anak-anak langsung kami bawa keluar.”
Sebagian warga hanya sempat menyelamatkan dokumen penting dan pakaian secukupnya. Perabot rumah tangga dibiarkan terendam.
Evakuasi di Tengah Gelap dan Hujan
Proses evakuasi dilakukan oleh petugas gabungan dibantu relawan dan warga sekitar. Dalam kondisi hujan dan penerangan terbatas, warga dievakuasi menggunakan kendaraan darurat dan berjalan kaki menuju lokasi pengungsian sementara.
Anak-anak, lansia, dan warga sakit menjadi prioritas. Beberapa lansia harus dipapah, sementara anak-anak digendong untuk menghindari arus air yang cukup deras di gang-gang sempit.
“Yang penting semua selamat,” ujar seorang petugas di lokasi. “Barang bisa dicari, nyawa tidak.”
Pengungsian dan Kelelahan
Di lokasi pengungsian, warga duduk beralaskan tikar seadanya. Wajah-wajah lelah terlihat jelas, terutama pada ibu-ibu dan anak-anak yang masih trauma melihat air masuk ke rumah mereka.
Meski demikian, rasa syukur tetap terucap karena tidak ada korban jiwa. Warga saling berbagi makanan ringan dan minuman hangat, mencoba menenangkan satu sama lain.
“Capek, tapi alhamdulillah kami aman,” kata Rizal, warga Tunggul Hitam lainnya.
Banjir dan Masalah Lama
Bagi warga Tunggul Hitam, banjir bukan hal baru. Kawasan ini dikenal rawan genangan saat hujan deras berlangsung lama. Drainase yang terbatas dan padatnya permukiman membuat air sulit surut dengan cepat.
Setiap musim hujan, warga hidup dalam kewaspadaan. Barang-barang penting sudah disiapkan di tempat tinggi, dan jalur evakuasi dikenal betul oleh masyarakat setempat.
“Kami sudah hafal tanda-tandanya,” ujar seorang warga. “Kalau hujan lama, pasti waswas.”
Menunggu Air Surut, Menunggu Kepastian
Hingga evakuasi selesai, warga masih menunggu perkembangan kondisi air. Petugas terus memantau ketinggian banjir dan mengimbau warga untuk tidak kembali ke rumah sebelum dinyatakan aman.
Sementara itu, dapur umum dan bantuan logistik mulai disiapkan untuk memenuhi kebutuhan dasar para pengungsi.
Harapan di Tengah Genangan
Di balik genangan air dan malam yang panjang, harapan tetap ada. Warga berharap banjir segera surut dan mereka bisa kembali membersihkan rumah, meski harus memulai dari nol.
Bagi masyarakat Tunggul Hitam, banjir bukan hanya ujian alam, tetapi juga ujian kebersamaan. Di tengah kesulitan, mereka saling menguatkan—berbagi ruang, makanan, dan doa.
Karena di saat air merendam segalanya, solidaritas menjadi satu-satunya yang tidak pernah tenggelam.







